ARTIKEL

Pointers Isi Khutbah Jumat oleh Ustadz Misrofi, S.Pd di Masjid Darunnajah Pondok Pesantren Darul Amanah.

Posted by admin
01/08/2026 | 21:04 WIB

Menjadi Santri: Jalan Kesabaran Menuju Kemuliaan

Menuntut ilmu merupakan salah satu ibadah yang memiliki kedudukan sangat mulia dalam Islam. Allah SWT memerintahkan agar selalu ada segolongan umat yang mendalami ilmu agama untuk kemudian mengajarkannya kepada masyarakat. Karena itulah, perjalanan seorang santri di pesantren bukan sekadar proses belajar, melainkan ikhtiar membentuk diri menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, dan bertakwa kepada Allah SWT.

Bagi santri baru, hari-hari pertama di pesantren tentu menjadi masa yang penuh tantangan. Berpisah dengan orang tua, tinggal jauh dari keluarga, menjalani kehidupan yang serba mandiri, serta beradaptasi dengan berbagai peraturan pesantren bukanlah perkara mudah. Rasa rindu kepada rumah merupakan hal yang wajar. Namun, di balik kerinduan tersebut tersimpan hikmah besar.

Kesabaran dalam menghadapi setiap ujian menjadi bagian dari proses pembentukan karakter yang kelak akan mengantarkan seseorang menuju kemuliaan.

Keputusan orang tua menitipkan putra-putrinya di pesantren bukanlah karena kurangnya kasih sayang. Sebaliknya, hal itu merupakan wujud cinta yang mendalam. Mereka berharap anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia, kecintaan kepada Al-Qur’an, ketaatan kepada Allah, serta penghormatan kepada guru dan orang tua.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, tantangan dalam mendidik generasi muda semakin besar. Pengaruh media sosial, pergaulan yang tidak terkendali, serta berbagai bentuk penyimpangan moral menjadi ancaman nyata bagi masa depan anak-anak. Dalam kondisi seperti ini, pesantren hadir sebagai benteng pendidikan karakter yang menanamkan nilai-nilai keimanan, adab, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Para ulama sejak dahulu telah mengingatkan bahwa adab harus didahulukan sebelum ilmu. Nasihat Imam Malik rahimahullah, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu,” menjadi pedoman penting dalam pendidikan Islam. Sebab, ilmu yang tidak dibangun di atas akhlak yang baik tidak akan memberikan keberkahan bagi pemiliknya maupun bagi masyarakat.

Perjalanan para ulama besar juga menjadi teladan bagi setiap santri. Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Al-Bukhari rela meninggalkan kampung halaman, menempuh perjalanan panjang, serta menghadapi berbagai kesulitan demi memperoleh ilmu yang bermanfaat. Mereka tidak dibesarkan dalam kenyamanan, tetapi ditempa oleh kesabaran, pengorbanan, dan ketekunan.

Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bahwa siapa saja yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Oleh karena itu, setiap langkah menuju majelis ilmu, setiap lembar kitab yang dipelajari, setiap ayat Al-Qur’an yang dibaca, bahkan setiap rasa lelah dan kerinduan yang ditahan karena menuntut ilmu, semuanya bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

Kesabaran menjadi kunci utama dalam perjalanan tersebut. Allah SWT menjanjikan pahala yang tidak terbatas bagi orang-orang yang sabar. Karena itu, kehidupan sederhana di pesantren, disiplin yang dijalani setiap hari, serta berbagai tantangan yang dihadapi sejatinya merupakan proses menempa diri agar lahir generasi yang kuat, tangguh, dan siap menjadi penerus perjuangan para ulama.

Semoga seluruh santri senantiasa diberi kekuatan untuk istiqamah dalam menuntut ilmu, mencintai Al-Qur’an, menghormati guru, berbakti kepada orang tua, serta tumbuh menjadi generasi berakhlakul karimah yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan negara. Amin. :::

ARTIKEL TERKAIT