ARTIKEL

Pondok Pesantren Darul Amanah Kembali Gelar Seminar Internasional Bersama Ulama Al-Azhar Mesir

Posted by admin
09/02/2026 | 07:26 WIB

KENDAL- Pondok Pesantren Darul Amanah kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan keilmuan Islam dengan menggelar Seminar Internasional yang menghadirkan ulama besar dari Mesir, Syaikh Fauzi Saeed Muhammad Haikal, seorang pakar ilmu Al-Qur’an dan Ilmu Qiro’at, sekaligus ulama Al-Azhar Kairo, Mesir.

Seminar Internasional tersebut diselenggarakan di Gedung Olahraga Pondok Pesantren Darul Amanah pada Ahad, 8 Februari 2026, dan diikuti oleh para santri, asatidz, civitas akademika, serta tamu undangan dengan penuh antusias dan khidmat.

Syaikh Fauzi Saeed Muhammad Haikal lahir pada 15 November 1961 M di Desa Tahori, Shebin Al-Qanater Center, Provinsi Al-Qalyubia, Republik Arab Mesir. Beliau dikenal luas sebagai ulama yang mendalami dan mengajarkan ilmu Al-Qur’an serta Qiro’at di lingkungan Al-Azhar.

Acara dibuka dengan sambutan KH. Muhammad Fatwa, M.S.I, selaku Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Amanah (STAIDA). Dalam sambutannya, beliau mewakili pimpinan Pondok Pesantren Darul Amanah menyampaikan rasa syukur, terima kasih, dan kebahagiaan atas kunjungan Syaikh Fauzi Saeed Muhammad Haikal ke pesantren.

“Atas nama pimpinan Pondok Pesantren Darul Amanah, kami mengucapkan terima kasih dan rasa bahagia yang mendalam atas kehadiran Syaikh Fauzi Saeed Muhammad Haikal dari Mesir, seorang pakar ilmu Al-Qur’an dan Ilmu Qiro’at,” tutur beliau.

KH. Muhammad Fatwa juga menyampaikan bahwa Pondok Pesantren Darul Amanah berdiri sejak tahun 1990 dan sejak awal hingga saat ini tetap istiqomah dalam mendidik santri, khususnya dalam pembinaan keilmuan, akhlak, dan Al-Qur’an.

Dalam tausiyahnya, Syaikh Fauzi Saeed Muhammad Haikal menyampaikan rasa hormat dan kebahagiaannya dapat berkunjung ke Pondok Pesantren Darul Amanah.

Beliau kemudian menekankan keutamaan Al-Qur’an dalam kehidupan seorang muslim.
Beliau mengutip sabda Rasulullah SAW:
(خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ)
“Sebaik-baik manusia adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Syaikh Fauzi menjelaskan bahwa barang siapa yang menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat, maka Al-Qur’an adalah jalannya. Salah satu amal terbaik di sisi Allah SWT adalah mengajarkan Al-Qur’an, dan orang-orang yang menghafalnya akan mendapatkan kebaikan serta kebahagiaan hidup.

Beliau juga menegaskan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata atau mengalami kesulitan akan memperoleh dua pahala: pertama, pahala sebagai orang yang bersungguh-sungguh belajar, dan kedua, pahala sebagai golongan makhluk terbaik di sisi Allah SWT. Bahkan, Allah SWT tidak akan memberi azab kepada para penghafal Al-Qur’an yang hatinya senantiasa dipenuhi dengan ayat-ayat-Nya.

Dalam tausiyahnya, Syaikh Fauzi mengisahkan keteladanan Ubay bin Ka’ab RA, salah satu sahabat utama Rasulullah SAW di Madinah yang bertugas sebagai juru tulis wahyu. Ubay bin Ka’ab dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an yang mahir dan menjadi orang pertama yang menuliskan wahyu di Madinah di bawah pengawasan langsung Rasulullah SAW.

Beliau menambahkan bahwa penghafal Al-Qur’an akan mendapatkan kemuliaan, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi kedua orang tuanya, baik di dunia maupun di akhirat. Banyak orang tua kelak dimuliakan Allah SWT di akhirat berkat anak-anak mereka yang menjadi hafidz dan hafidzah Al-Qur’an.

Syaikh Fauzi juga berpesan agar para penghafal Al-Qur’an senantiasa taat kepada Allah SWT dan berbakti kepada kedua orang tua.

Beliau melanjutkan tentang menjauhi maksiat, mengutip nasihat Imam Syafi’i:

“Aku pernah mengadu kepada guruku, al-Waki’, tentang buruknya hafalanku. Maka beliau menasihatiku untuk meninggalkan perbuatan dosa. Ia berkata, sesungguhnya ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat dosa.”

Menurut beliau, orang yang menghafal Al-Qur’an akan memiliki hati yang lembut dan terdorong untuk selalu berbuat kebaikan. Di akhir tausiyahnya, Syaikh Fauzi berwasiat agar para santri senantiasa murojaah dan membaca Al-Qur’an setelah sholat Subuh hingga waktu fajar, karena waktu tersebut penuh keberkahan. Hal ini juga merupakan wasiat Rasulullah SAW kepada putrinya, Fatimah RA.

Sebagai penutup, beliau menyampaikan salah satu metode menjaga hafalan Al-Qur’an, yaitu saling murojaah Al-Qur’an setiap hari, agar hafalan tetap kuat dan terjaga.

Seminar Internasional ini diharapkan dapat menambah wawasan, semangat, serta kecintaan para santri dan civitas Pondok Pesantren Darul Amanah terhadap Al-Qur’an, sekaligus memperkuat jejaring keilmuan Islam tingkat internasional.

ARTIKEL TERKAIT