ARTIKEL
770 Pramuka Penegak dan Pandega Ramaikan PWD XI Jawa Tengah di Darul Amanah Kendal
KENDAL – Sebanyak 770 anggota Pramuka Penegak dan Pandega yang berasal dari berbagai kabupaten dan kota se-Jawa Tengah mengikuti Perkemahan Wirakarya Daerah (PWD) XI Kwartir Daerah (Kwarda) Jawa Tengah. Kegiatan tersebut dipusatkan di Pondok Pesantren Darul Amanah, Sukorejo, Kabupaten Kendal.

PWD XI berlangsung selama enam hari, mulai Sabtu hingga Kamis, 26 September sampai 1 Oktober 2026. Perkemahan ini menjadi wadah bagi para peserta untuk mempererat interaksi dengan masyarakat sekaligus mengambil bagian dalam berbagai kegiatan pengabdian dan pembangunan, baik berupa pembangunan fisik maupun kegiatan nonfisik.
Perkemahan Wirakarya merupakan kegiatan besar bagi Pramuka Penegak dan Pandega yang dikemas dalam bentuk perkemahan sekaligus pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, anggota Pramuka diarahkan untuk menerapkan nilai-nilai kepramukaan secara langsung dengan ikut menyelesaikan berbagai persoalan serta memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, melalui sambutan yang disampaikan Sekretaris Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah Syurya Deta Syafrie, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya PWD XI di Sukorejo.
Menurutnya, kesiapan sarana dan fasilitas yang disediakan Pondok Pesantren Darul Amanah menjadi bukti adanya kolaborasi antara dunia pendidikan pesantren dan Gerakan Pramuka. Apresiasi juga diberikan kepada para tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga Sukorejo yang turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan.
“Perkemahan Wirakarya Daerah XI ini mengangkat tema ‘Bergerak Membangun Masyarakat melalui Kerja Nyata’,” ujar Deta saat membacakan sambutan Gubernur Jawa Tengah.
Deta menjelaskan bahwa tema tersebut memiliki keterkaitan erat dengan semangat pembangunan Jawa Tengah yang mengedepankan nilai ngopeni dan ngelakoni. Ngopeni berarti merawat, menunjukkan kepedulian, serta hadir di tengah masyarakat. Sedangkan ngelakoni merupakan wujud nyata dari kepedulian tersebut melalui tindakan dan karya langsung.
Ia menegaskan bahwa anggota Pramuka tidak hanya dituntut memahami berbagai teori kepramukaan, tetapi juga harus mampu menerapkannya melalui keterlibatan langsung bersama masyarakat.
“Pramuka tidak cukup hanya memahami teori. Pramuka harus hadir, turun tangan, bekerja bersama masyarakat, dan memberikan manfaat,” katanya.
Dalam pelaksanaan PWD XI, terdapat empat hal yang ditekankan kepada seluruh peserta. Pertama, memahami potensi sekaligus persoalan yang ada di tengah masyarakat. Kedua, menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Ketiga, mendorong lahirnya kreativitas dan inovasi. Keempat, menghasilkan karya yang memiliki manfaat nyata bagi masyarakat.
Deta berharap keberadaan peserta PWD XI di lokasi kegiatan dapat meninggalkan hasil yang benar-benar dirasakan masyarakat. Dengan demikian, kehadiran para peserta tidak berhenti sebagai pengalaman atau kenangan selama berkemah, tetapi mampu menghasilkan karya serta perubahan yang berkelanjutan.
“Kami berharap adik-adik dapat menjadikan PWD XI sebagai ruang pembentukan karakter kepemimpinan, kemandirian, gotong royong, dan rasa cinta kepada tanah air,” pesannya.
Selama mengikuti kegiatan, seluruh peserta juga diingatkan untuk menghargai tanaman dan lingkungan lokal, menjaga tradisi serta tata krama masyarakat Sukorejo, dan menghormati lingkungan Pondok Pesantren Darul Amanah.
Selain aspek pengabdian, faktor keselamatan dan kesehatan peserta menjadi perhatian penting agar seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana dengan tertib, aman, dan lancar.
“Mari kita jadikan PWD XI Jawa Tengah tahun 2026 sebagai momentum untuk membuktikan bahwa Pramuka hadir, Pramuka bergerak, dan Pramuka berkarya untuk masyarakat,” tegas Deta.
Pembukaan PWD XI Kwarda Jawa Tengah kemudian dilakukan secara resmi oleh Syurya Deta Syafrie. Selama berlangsung hingga 1 Oktober 2026, para peserta akan mengikuti beragam kegiatan pengabdian, pembangunan, serta karya bersama masyarakat di sekitar lokasi perkemahan.
