ARTIKEL
Ulama dan Akademisi dari Kesultanan Oman Hadir di Darul Amanah, Ribuan Santri Ikuti Studium General tentang Ilmu, Iman, dan Amal
KENDAL – Pondok Pesantren Darul Amanah menggelar Studium Generale atau kuliah umum bersama sejumlah ulama dan akademisi dari Kesultanan Oman, Rabu (2/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di Gedung Olahraga Pondok Pesantren Darul Amanah tersebut diikuti oleh pimpinan, wakil pimpinan, dosen, guru, mahasiswa, serta ribuan santri Pondok Pesantren Darul Amanah.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi keluarga besar Pondok Pesantren Darul Amanah untuk memperluas wawasan keislaman sekaligus memperkuat hubungan akademik dan keilmuan dengan para ulama serta perguruan tinggi dari Oman.

Studium Generale menghadirkan tiga narasumber utama dari Oman, yakni Dr. Abdulla Said Khalfan Al-Mamari, Lecturer at College of Shari’a Sciences, Oman; Dr. Adil Abdullah Ali Al Jahdhami, Lecturer at Sultan Qaboos University; serta Mohammed Khatim Othman Al Dhuhli, General Secretary of Ifta’ Office, Oman.
Suasana kegiatan berlangsung khidmat dan penuh antusiasme. Ribuan santri dan peserta mengikuti pemaparan materi dengan penuh perhatian, terutama ketika para narasumber menyampaikan pentingnya ilmu agama sebagai dasar dalam menjalani kehidupan seorang Muslim.

Dalam ceramahnya, Dr. Abdulla Said Khalfan Al-Mamari menyampaikan bahwa agama yang diridai Allah SWT adalah Islam. Islam tidak hanya menjadi identitas seorang Muslim, tetapi juga merupakan jalan hidup yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, sesama manusia, dan lingkungan.
Ia mengingatkan firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran ayat 19:
«“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.”»
Karena itu, seorang Muslim hendaknya menjadikan Islam sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan, baik dalam beribadah, belajar, bekerja maupun bermasyarakat.
Dr. Al-Mamari juga mengajak seluruh peserta untuk memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT. Menurutnya, salah satu kunci ketenangan hidup adalah menyadari bahwa seluruh nikmat yang dimiliki manusia pada hakikatnya berasal dari Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7:
«“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”»
Ia menjelaskan bahwa bersyukur tidak cukup hanya dengan mengucapkan Alhamdulillah, tetapi juga diwujudkan dengan menggunakan nikmat Allah untuk melakukan kebaikan dan memberikan manfaat kepada sesama.
Salah satu pesan penting yang disampaikan Dr. Al-Mamari adalah pentingnya menjalankan ibadah berdasarkan ilmu. Menurutnya, semangat beribadah harus berjalan seiring dengan semangat menuntut ilmu.
“Melakukan ibadah harus dengan ilmu,” menjadi salah satu penekanan dalam penyampaiannya.
Seorang Muslim perlu mengetahui tata cara shalat yang benar, bersuci, berpuasa, membayar zakat, serta berbagai bentuk ibadah lainnya sesuai tuntunan syariat. Dengan ilmu, ibadah dapat dilakukan secara benar dan tidak hanya berdasarkan kebiasaan atau perkiraan.
Lebih lanjut, Dr. Al-Mamari menjelaskan tiga hal penting yang harus menjadi perhatian seorang Muslim, yaitu ilmu, amal, dan mengamalkan ilmu.
Pertama, manusia harus memiliki ilmu dan memahami sesuatu sebelum melakukannya. Kedua, ilmu yang diperoleh harus diwujudkan dalam amal. Ketiga, ilmu tersebut harus terus diamalkan sehingga memberikan perubahan nyata dalam kehidupan.
Ilmu tidak boleh hanya berhenti sebagai pengetahuan. Ilmu harus melahirkan amal, sedangkan amal menjadi bukti bahwa ilmu yang dimiliki benar-benar memberikan manfaat.
“Segala sesuatu harus dilakukan dengan ilmu,” menjadi pesan penting yang disampaikan kepada para peserta.
Dalam kesempatan tersebut, Al-Mamari juga menekankan pentingnya mempelajari ilmu syariah. Menurutnya, ilmu syariah merupakan salah satu ilmu dasar yang dibutuhkan seorang Muslim sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan sesuai dengan ajaran Islam.
Dengan mempelajari syariah, seseorang dapat memahami ketentuan mengenai halal dan haram, wajib dan sunnah, serta berbagai tata cara ibadah yang benar.
Ilmu syariah, lanjutnya, bukan hanya diperuntukkan bagi ulama atau kalangan akademisi. Setiap Muslim membutuhkan ilmu agama sesuai dengan kebutuhan kehidupannya agar ibadah dan aktivitas yang dilakukan memiliki dasar yang benar.
Pesan berikutnya yang disampaikan adalah bahwa ilmu harus didasari dengan keimanan. Ilmu yang tidak dilandasi iman dapat kehilangan arah dan tujuan.
Seseorang mungkin memiliki pengetahuan yang luas, tetapi apabila ilmu tersebut tidak mendekatkannya kepada Allah SWT, maka ilmu itu tidak memberikan manfaat yang sempurna bagi kehidupan akhirat. Karena itu, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin kuat pula keimanannya kepada Allah SWT.
Selain iman, ilmu juga harus disertai ketakwaan. Ilmu yang dibarengi takwa akan menjadi sumber keberkahan karena digunakan untuk kebaikan, bukan untuk kesombongan maupun kepentingan yang merugikan orang lain.
Sebaliknya, ilmu yang tidak disertai ketakwaan dapat membawa seseorang kepada kerugian apabila pengetahuan tersebut tidak digunakan di jalan yang benar.
Dr. Al-Mamari juga mengingatkan bahwa keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu tidak hanya diukur dari seberapa banyak pengetahuan yang diperoleh, tetapi juga dari seberapa jauh ilmu tersebut mengubah perilakunya menjadi lebih baik.
Seseorang yang mengetahui pentingnya kejujuran harus mampu menjadi pribadi yang jujur. Orang yang mengetahui kewajiban shalat harus menjaga shalatnya. Demikian pula pengetahuan tentang kebaikan harus diwujudkan dalam perbuatan.
Dengan demikian, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di akhir penyampaiannya, Dr. Al-Mamari menekankan pentingnya niat yang baik dalam setiap aktivitas.
Ia mengutip sabda Rasulullah SAW:
«“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»
Menurutnya, setiap aktivitas hendaknya diawali dengan niat yang baik dan ikhlas karena Allah SWT. Belajar diniatkan untuk mencari ilmu dan mendapatkan ridha Allah. Mengajar diniatkan untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Sementara bekerja diniatkan untuk mencari rezeki yang halal sekaligus menjalankan tanggung jawab.
Kegiatan Studium Generale bersama ulama dan akademisi dari Oman tersebut diharapkan memberikan pengalaman akademik dan spiritual bagi seluruh peserta, khususnya para santri dan mahasiswa Pondok Pesantren Darul Amanah.
Pesan yang disampaikan para narasumber menjadi pengingat bahwa pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga harus mampu membentuk keimanan, ketakwaan, akhlak, dan amal nyata.
Melalui kegiatan tersebut, Pondok Pesantren Darul Amanah terus mendorong lahirnya generasi yang memiliki keluasan ilmu, kekuatan iman, ketakwaan, serta kemampuan mengamalkan ilmu dalam kehidupan bermasyarakat.
Pada akhirnya, Studium Generale ini menegaskan bahwa ilmu, iman, amal, dan ketakwaan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam membentuk pribadi Muslim yang berkualitas. Ilmu tanpa amal tidak sempurna, amal tanpa ilmu dapat salah arah, ilmu tanpa iman dapat kehilangan tujuan, sedangkan ilmu dan amal tanpa ketakwaan dapat kehilangan keberkahan.
Kegiatan ditutup dengan harapan agar ilmu yang diperoleh para peserta menjadi ilmu yang bermanfaat, amal yang diterima Allah SWT, serta menjadi bekal untuk membangun kehidupan yang penuh keberkahan dan mendapatkan rida Allah SWT.
