Apr 262020
 

Kajian Kitab Mauidzah Ushfuriyah – Ustadz. Makinun Amin, S.Pd

Hadits kedua :

Dari Ibnu Mas’ud ra. Berkata, Rasulullah SAW bersabda :

الفَاجِرُ الرًّاجِيْ رَحْمَةَ اللهِ تَعَالَى اَقْرَبُ اِلَى اللهِ مِنَ الْعَابِدِ الْمُقْنِطِ

“Pendosa yang mengharapkan Rahmat Allah adalah lebih dekat kepada Allah daripada ‘abid (ahli ibadah) yang membuat orang berputus asa dari rahmat Allah”

            Ada ahli maksiat tapi selalu meminta rahmat Allah, ada pula ahli ibadah yang mengatakan bahwa orang lain yang tidak beribadah seperti dirinya tidak akan bisa mendapat rahmat Allah. Maka lebih baik ahli maksiat tersebut. Begitu yang dijelaskan dalam hadits tersebut. Kenapa demikian ?. Sebab orang yang ahli maksiat tersebut masih mengakui kelemahannya dan senantiasa meminta rahmat Allah. Sedangkan orang yang ahli ibadah tersebut justru sombong dengan ibadahnnya, bahkan sampai menjustifikasi orang lain tidak menerima rahmat Allah SWT.

Dalam riwayat cerita dikisahkan :

Pada zaman nabi musa as, ada seorang laki-laki yang meninggal dunia. Namun masyarakat disekitarnya menolak untuk memandikan, dan mengkafaninya. Malah membuang mayat tersebut ke tempat sampah dengan alasan bahwa laki-laki tersebut suka membuat kemaksiatan. Allah merasa kasihan melihat kejadian itu. Lalu mewahyukan kepada Nabi Musa as. untuk mencari orang tersebut. Nabi Musa pun langsung mencari ke penjuru desa, menanyakan keberadaan si mayit. Setelah ditunjukkan mayatnya di tempat sampah Beliau heran. “Kenapa orang ini dibuang ditempat sampah ?” lalu di jawablah oleh salah seorang warga “kami tidak mau mengurusi mayatnya, karena dia adalah seorang ahli maksiat dan pembuat kerusakan”

Nabi Musa bertanya kepada Allah “Ya Allah, kenapa Engkau ingin aku mengurus jenazah seorang yang ahli maksiat dan pembuat kerusakan ?” Maka Allah berfirman : “Aku mengetahui bahwa Laki-laki tersebut adalah ahli maksiat dan selalu membuat kerusakan setiap harinya. Tapi hingga ia meninggal, ia tidak berputus asa untuk meminta rahmat dan ampunan kepadaku, maka Aku mengampuninya. Sebelum ia meninggal ia berdoa kepadaku : Ya Allah ampunilah aku dan rahmatilah aku, karena aku tahu aku melakukan maksiat karena hawa nafsuku, karena kehendak teman-temanku dan karena kehendak iblis. Ya allah seandainya aku bertemu dengan dua orang (orang fasik dan orang sholeh) maka akau akan mendekati orang sholeh tersebut. Ya allah seandainya ada perbuatan baik dan buruk maka aku akan mendahulukan perbuatan baik.” Jadi Allah mengetahui isi hati orang tersebut bahwa ia selalu mendahulukan kebaikan daripada keburukan dan tidak pernah putus asa terhadap rahmat Allah. Maka allah mengampuninya.

Cerita serupa juga terjadi di zaman Nabi Muhammad SAW. Saat itu ada seorang yang selalu bermaksiat setiap harinya. Ketika meninggal dunia tetangganya tidak ada yang mengurusi mengurusi mayat ahli maksiat tersebut. Anehnya, Rasulullah SAW justru mendatangi rumahnya dan memandikan serta mengkafankannya.

Melihat kejadian ini, para sahabat terheran-heran, kenapa Rasul bersedia mengurusi jenazah orang yang selalu berbuat maksiat ini ?. Sebagai Sahabat yang selalu membantu Rasulullah, sudah pasti mereka ingin membantu. Tapi sesampainya di depan rumah si mayit, mereka malah tidak boleh masuk oleh Rasulullah. Kemudian Rasul mengabarkan bahwa di dalam sedang banyak malaikat yang sedang berziarah.

Mendengar kabar ini, para sahabat semakin heran dan menanyakannya kepada Rasulullah SAW “Mengapa orang ini dimulyakan ? padahal selalu melakukan maksiat dan kerusakan” maka di jawablah oleh Rasul “Memang orang tersebut ketika siang selalu melakukan maksiat dan kerusakan. Tapi tahukah kalian, ketika malam hari dia bertobat, bersujud kepada allah dan berdoa :

اَللهُمَّ اِنِّيْ اَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَ وَ الْمَمَاتِ وَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari adzab kubur dan adzab neraka, dan dari fitnah hidup dan fitnah mati, dan dari fitnah dajjal”

Oleh karena itu Allah memulyakan laki-laki ini dan para malaikat diperintahan untuk turun dan bertakziyah”.

 

Dari dua kisah di atas, bisa kita ambil kesimpulan bahwa seburuk apapun kita hari ini, jangan pernah berputus asa kepada Rahmat Allah. Sebab dalam kondisi apapun kita masih berpeluang untuk menjadi lebih baik. Dan lagi, Allah mencintai orang-orang yang senantiasa meminta rahmat kepada-Nya. Sebab yang demikian itu menunjukkan bahwa kita mengakui kelemahan kita sebagai seorang hamba, kita tidak bisa apa-apa kecuali atas rahmat dan pertolongan Allah SWT.

Maka, Jangan pernah putus asa terhadap rahmat Allah SWT. Sebesar apa pengharapan kita kepada Rahmat Allah, sebesar itu pula peluang kita mendapat Rahmat Allah SWT.

 

Sorry, the comment form is closed at this time.